Home
Jumat, 03/07/2020 - 22:54:32 WIB
Pemko Akan Tutup Mal Pekanbaru dan Isolasi Pegawai Lain
Jumat, 03/07/2020 - 22:16:57 WIB
Karyawan Tenan Positif Covid-19, Pihak Mal Pekanbaru Minta Pengunjung Tetap Tenang
Jumat, 03/07/2020 - 17:02:50 WIB
Tracing Pasien Positif Corona di Kuasing, 75 Orang Diswab Massal
Jumat, 03/07/2020 - 15:48:53 WIB
Istri Bupati Kutai Timur yang Ikut Terkena OTT KPK Ternyata Menjabat Ketua DPRD
Jumat, 03/07/2020 - 15:48:21 WIB
Hari Ini Riau Tambah 4 Kasus, Berikut Data Sebaran Kasus Positif Corona di Indonesia
Jumat, 03/07/2020 - 15:48:18 WIB
Pertama Dalam Sejarah, Hamas dan Fatah Sepakat Bersatu Lawan Gempuran Israel
Jumat, 03/07/2020 - 15:12:17 WIB
Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Praja Wibawa
Jumat, 03/07/2020 - 11:30:25 WIB
Pasien Covid-19 Ini Mengalami Ereksi Selama 4 Jam, Dokter Kelabakan
Jumat, 03/07/2020 - 11:29:24 WIB
Jenazah Korban Covid-19 DIcampakkan dengan Kasar Oleh Petugas Medis, Netizen Murka
Kamis, 02/07/2020 - 20:36:42 WIB
Ketua DPRD Riau Enggan Berkomentar
Kamis, 02/07/2020 - 18:52:23 WIB
Kapolri Idham Aziz Minta Polisi Yang Terjerat Narkoba Dihukum Mati
Kamis, 02/07/2020 - 06:28:14 WIB
Hakim halangi penerbitan buku keponakan Presiden Donald Trump yang ungkap penipuan dan penggelapan
 
Tingkat Akurasi 95 Persen
Dosen UGM Ciptakan Alat Deteksi Covid-19, Tingkat Akurasi 95 Persen

Sabtu, 27/06/2020 - 05:47:02 WIB

politikriau.com - Peneliti yang juga dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Suparta menciptakan alat pendeteksi  virus Covid-19 dengan menggunakan radiografi digital. Bayu menyebut alat deteksi bikinannya ini memiliki signifikasi terhadap Covid-19 hingga 95 persen.


Bayu membandingkan, saat ini ada dua alat deteksi Covid-19 yang dipakai yaitu rapid test dan uji PCR atau swab test. Dari kedua alat deteksi tersebut, tingkat akurasi rapid test hanya 30 persen sementara untuk PCR mencapai 75 persen.


“Alat radiografi digital bisa membuktikan terkena virus atau tidak jika dilihat dari struktur paru-parunya. Bila terkena virus corona maka paru-parunya menjadi rusak. Intinya lewat radiografi, signifikansinya sampai 95 persen,” ujar Bayu dalam keterangan tertulisnya, Jumat malam, 26 Juni 2020.


Dosen Prodi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM ini mengatakan, meski teknologi bisa mendeteksi tingkat akurasi Covid-19, namun tidak semua rumah sakit memiliki teknologi ini. Menurutnya, dari 3000-an rumah sakit di Indonesia hanya rumah sakit tipe A yang mendapat bantuan alat ini dari pemerintah.


“Hanya rumah sakit tipe A diberi alat radiografi digital. Sedangkan yang lain tidak ada. Bisa diprediksi alat radiografi digital sangat sedikit sehingga menjadi motivasi besar saya sejak lama melakukan riset alat radiografi digital dengan harga bisa dijangkau,” katanya.


Meski belum mau menyebut harga untuk alat radiografi buatannya, namun Bayu meyakinkan bahwa harga alat radiografi buatannya jauh lebih murah dari alat yang sama buatan luar negeri yang diimpor.


“Impian saya, kita bangga dengan produk inovasi kita sendiri, bayangkan 9.000 puskesmas bisa memilikinya karena harganya terjangkau,” harap Bayu.


Bayu menerangkan, dirinya sudah sejak 30 tahun lalu menekuni penelitian riset radiografi digital. Bayu menyebut hasil penelitiannya itu sudah dibuatnya sejak 15 tahun lalu.


Namun, penelitian itu belum sempat dihilirisasi. Bayu menyebut penelitian radiografi digital miliknya baru diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo bersama dengan puluhan produk inovasi lainnya yang digunakan untuk membantu penanggulangan wabah Covid-19 pada 20 Mei 2020 lalu di Istana Negara.


“Ketika diluncurkan, saya pikir ini tidak main-main. Saya bersama tim bekerja keras menyempurnakan alat ini,” katanya.


Hingga saat ini, kata Bayu, sudah ada tiga alat radiografi digital buatannya yang sudah diproduksi untuk keperluan mendapatkan izin produksi, izin edar dan uji coba ke pengguna. Bayu menyebut produknya yang diberi merek Madeena atau Made in Ina (Indonesia), saat ini sudah dipakai di rumah sakit Tabanan Bali. Sementara itu dua alat ciptaan Bayu lain digunakan sebagai syarat tahapan proses mendapatkan izin produksi massal.


“Soal hilirisasi dan komersial sepenuhnya saya serahkan ke pemerintah dan stakeholder bidang kesehatan. Kita sudah mengajukan izin produksi dan izin edar. Apalagi, Presiden sudah meminta untuk produk inovasi monitoring Covid-19 dipermudah izinnya,” ucap Bayu.


Bayu meyakini alat radiografi digital bikinannya sangat mampu menentukan dan identifikasi untuk prognosis pasien yang terkena Covid-19. Bahkan, dalam operasional alat tersebut menurutnya sangat adaptif dengan teknologi 4.0 dan sangat aman bagi pasien dan tenaga medis.


”Sangat aman bagi pasien karena dosis radiasi dibuat serendah mungkin. Alat ini dikontrol dengan komputer, lalu sinar memancarkan ke tubuh pasien, terusan radiasi ditangkap detektor dan dihubungkan ke layar monitor, lalu diolah radiografer diberikan ke tenaga fisika medik. Setelah itu, akan transfer ke dokter secara digital sesuai permintaan,” urai Bayu.


Bayu menambahkan salah satu keunggulan alat radiografi digital ini yaitu bisa terhubung dengan big data. Sepanjang rumah sakit atau puskesmas memiliki akses internet maka bisa dilakukan pengecekan data hasil radiografi pasien dari jarak jauh bila terhubung dengan sistem kesehatan di setiap pusat layanan kesehatan.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2020