Politikriaucom  AKARTA "> Politikriaucom  AKARTA&n" />
 
Home
 
Eks Koruptor Diputuskan Tak Bisa Langsung Ikut Pilkada
Akhirnya, Eks Koruptor Diputuskan Tak Bisa Langsung Ikut Pilkada

Sabtu, 14/12/2019 - 13:58:35 WIB

politikriak.com JAKARTA - Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) terkait syarat mantan terpidana korupsi mencalonkan diri menjadi kepala daerah. 

"Mengabulkan permohonan para pemohon untuk sebagian," ujar Ketua MK, Anwar Usman dalam pembacaan putusan di Gedung MK, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Gugatan tersebut diajukan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). ICW dan Perludem sebelumnya menggugat Pasal 7 ayat (2) huruf g UU No 10 Tahun 2016 tentang syarat bagi warga negara, termasuk terpidana mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Pasal 7 ayat (2) Huruf g UU Pilkada menyatakan syarat calon kepala daerah tidak pernah sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap atau bagi mantan terpidana telah secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana.

Pemohon menilai pasal itu membuka kesempatan mantan terpidana, khususnya kasus korupsi, untuk menjadi calon kepala daerah tanpa masa tunggu setelah menjalani hukuman. Selain itu pasal tersebut juga dapat dimaknai bahwa eks terpidana korupsi bisa langsung mencalonkan diri menjadi kepala daerah setelah mengumumkan rekam jejaknya kepada publik.

Oleh karena itu pemohon meminta MK mengabulkan permohonan Pasal 7 ayat (2) Huruf g UU Pilkada tidak mengikat sepanjang tidak dimaknai pencabutan hak pilih oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, bagi mantan terpidana telah melewati jangka waktu 10 tahun setelah mantan terpidana selesai menjalani pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, jujur atau terbuka mengenai latar belakang jati dirinya sebagai mantan terpidana dan bukan pelaku kejahatan yang berulang-ulang.

Seperti dilansir Antara, Anwar Usman pada amar putusannya mengabulkan sebagian permohonan dari ICW dan Perludem tersebut. Anwar menyatakan Pasal 7 ayat (2) Huruf g UU No 10 Tahun 2016 tentang Pilkada bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai telah melewati jangka waktu lima tahun setelah mantan terpidana selesai menjalani pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. 

Artinya, eks terpidana baru bisa mencalonkan diri sebagai kepala daerah setelah melalui masa tunggu 5 tahun usai menjalani pidana penjara.

Dengan demikian MK mengabulkan permohonan adanya masa tunggu bagi mantan terpidana selama 5 tahun sebelum mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Adapun permohonan ICW dan Perludem mengenai waktu masa tunggu selama 10 tahun, tidak dikabulkan.

MK kemudian memutuskan mengubah bunyi pasal 7 ayat (2) Huruf g UU Pilkada, yakni: g. (i) Tidak pernah sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih, kecuali terhadap pidana yang melakukan tindak pidana kealfaan dan tindak pidana politik, dalam suatu perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak pidana dalam hukum positif, hanya karena pelakunya memiliki pandangan politik yang berbeda dengan rezim yang sedang berkuasa, (ii) bagi mantan terpidana yang telah melewati jangka waktu 5 tahun setelah selesai menjalani pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dan secara jujur atau terbuka mengumumkan mengenai latar belakang jati dirinya sebagai mantan terpidana, dan (iii) bukan sebagai pelaku kejahatan yang berulang-ulang.

Atas putusan MK tersebut, ICW meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) segera merevisi Peraturan KPU (PKPU). "Kita meminta KPU segera mungkin merevisi PKPU dan itu tidak butuh waktu lama untuk memperbaiki pasal," ujar Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Donal Fariz seperti dilansir detikcom.

Donal mengatakan, KPU memiliki kewajiban menindaklanjuti putusan yang diberikan oleh MK. Selain KPU, Donal menilai Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) perlu melakukan pengawasan dalam proses pendaftaran calon kepala daerah.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini mengatakan, putusan MK tersebut menjadi kado istimewa dalam suasana peringatan Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember. 

"Putusan MK atas uji materi pasal pencalonan mantan napi di Pilkada meski tidak mengakomodir semua permohonan kami, menjadi kado istimewa dalam suasana peringatan Hari Antikorupsi Internasional dan Hak Asasi Manusia Internasional," ujar Titi.

Dengan adanya putusan ini, Perludem berharap Pilkada Serentak 2020 di 270 daerah benar-benar bisa menghadirkan calon yang bersih dan antikorupsi. Hal ini memungkinkan calon kepala daerah bisa berkonsentrasi membangun daerah secara maksimal, dengan perspektif pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan yang baik. (*)

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2018