oleh: Aulia Adita Rahma*

Karhutla di Indonesia

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini terjadi lagi di Indonesia. Kejadian ">
oleh: Aulia Adita Rahma*

Karhutla di Indonesia
Home
 
Karhutla: Tanda Terjadi Pengalihan Lahan
Karhutla: Tanda Terjadi Pengalihan Lahan Kelapa Sawit

Senin, 14/10/2019 - 13:17:36 WIB

Politikriau.com

oleh: Aulia Adita Rahma*

Karhutla di Indonesia

Kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) kini terjadi lagi di Indonesia. Kejadian
saat musim kemarau tersebut kembali memicu bencana asap di berbagai
daerah. Laporan bencana asap pun bermunculan dari Riau, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Barat, dan daerah-daerah di Pulau Sumatera pada bulan
September 2019.

Karhutla bukan peristiwa yang baru bagi
Indonesia. Sejarah mencatat, karhutla hebat pernah terjadi di Riau dan
Kalimantan tahun 1997 silam. Dampaknya amat parah, termasuk jatuhnya
pesawat dan efek asap yang sampai ke negara-negara tetangga.

Fenomena
yang sama terjadi lagi pada Juni - Oktober 2015 lalu, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat 2,6 juta hektar hutan
terbakar di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Dan pada tahun ini,
berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), titik
panas ditemukan di Riau sebanyak 58, Jambi (62), Sumatera Selatan (115),
Kalimantan Barat (384), Kalimantan Tengah (513) dan Kalimantan Selatan
(178).

Luas karhutla di Indonesia selama 2019, sesuai data KLHK,
sudah mencapai 328.722 hektar. Dari data itu, kebakaran di Kalimantan
Tengah tercatat seluas 44.769 hektar, Kalbar (25.900 ha), Kalsel (19.490
ha), Sumsel (11.826 ha), Jambi (11.022 ha) dan Riau (49.266 ha).

Pembukaan Lahan Baru Kelapa Sawit

Setiap
kali karhutla terjadi, industri kelapa sawit akan disudutkan. Hal ini
bukan tanpa alasan, dikarenakan karhutla tak hanya disebabkan musim
kemarau yang berkepanjangan, tetapi juga dipicu oleh aktivitas pembukaan
lahan perkebunan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab.

Berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB), 85 persen area  karhutla di Indonesia terjadi di luar konsesi
lahan sawit. Dari keterangan diatas ditemukan kejanggalan karena area
yang terbakar hanya hutan, sementara area kebun sawit dan tanaman
lainnya tidak terbakar. Hal ini yang memicu dugaan bahwa terdapat unsur
kesengajaan dalam pola karhutla yang terjadi.

Pembukaan lahan ini
sudah dilakukan sejak berkembangnya sektor perkebunan di Indonesia.
Kelapa sawit merupakan komoditas yang dibesar-besarkan sebagai primadona
sektor pertanian khususnya perkebunan, hal ini dikarenakan sejak tahun
1989-2017, Minyak Kelapa Sawit (CPO) merupakan komoditas penyumbang
ekspor terbesar bagi Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS), total ekspor minyak kelapa sawit beberapa tahun
terakhir cenderung mengalami peningkatan, kecuali pada tahun 2016 yang
mengalami penurunan. Peningkatan tersebut berkisar antara 9,44 sampai
dengan 16,06 persen per tahun. Dan pada tahun 2013 total volume ekspor
mencapai 22,22 juta ton dengan total nilai sebesar US$ 17,14 milyar,
meningkat menjadi 29,07 juta ton pada tahun 2017 dengan total nilai
sebesar US$ 20,72 miliar.

Hal tersebut diikuti dengan
meningkatnya produksi minyak kelapa sawit (CPO) di Indonesia dari tahun
2013 sampai dengan 2016. Pada tahun 2013 sampai 2015, produksi minyak
kelapa sawit mengalami kenaikan antara 5,67 sampai dengan 7,70 persen.
Kemudian di tahun 2016, produksi minyak kelapa sawit mengalami
peningkatan tajam sebesar 53,28 persen dari tahun 2015. Jika dilihat
dalam jumlah juta ton, produksi minyak sawit (CPO) di tahun 2013 sebesar
17,77 juta ton, meningkat menjadi 31,49 pada tahun 2016.

Upaya
pemerintah untuk mempertahankan komoditas kelapa sawit yaitu
meningkatkan luas area tiap tahunnya untuk  komoditas ini agar tetap
eksis di pasar domestik maupun internasional. Hal inilah yang diduga
memicu terjadinya karhutla. Luas areal perkebunan kelapa sawit di
Indonesia beberapa tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan,
kecuali pada tahun 2016 yang mengalami penurunan.

Pada tahun
2013 lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat seluas 10,47 juta
hektar, meningkat menjadi 11,26 juta hektar pada tahun 2015 dan pada
tahun 2016 luas areal perkebunan kelapa sawit menurun menjadi 11,20 juta
hektar. Selanjutnya, di tahun 2017 luas areal perkebunan kelapa sawit
kembali mengalami peningkatan menjadi 12,30 juta hektar

Akibat Pembukaan Lahan Baru

Meningkatknya
luas lahan perkebunan sawit berbanding terbalik dengan luas lahan
sawah. Berdasarkan catatan BPS,  pada 2018 luas lahan sawah sebesar 7,1
juta hektar, menurun dibandingkan tahun 2017 yang masih 7,75 juta
hektar. Menurunnya luas lahan sawah diakibatkan oleh alih fungsi lahan
pertanian menjadi lahan perkebunan sawit, sehingga banyak masyarakat
yang kehilangan tanah dan sumber penghidupannya.

Menurut data
BPS Provinsi Jambi tahun 2015, luas lahan perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten Tanjung Jabung Timur menurun hingga tahun 2013 sekitar 593
ribu hektar, sementara itu penurunan lahan pangan mencapai 10 ribu
hektar dalam 3 tahun, 2009-2013. Provinsi Riau kekurangan 415 ton beras
akibat alih fungsi lahan pangan ke perkebunan kelapa sawit.

Kekurangan dari Perkebunan Kalapa Sawit


Jika
dikaji lebih dalam, perkebunan sawit bisa menjadi potensi kemiskinan
bagi rakyat. Hal ini dapat dilihat dari dampak adanya perkebunan sawit,
yaitu eksploitasi lahan gambut, perampasan tanah petani, kerusakan
sungai, pencemaran, alih fungsi lahan, dan dampak buruk lainnya yang
sangat berpotensi merugikan rakyat bahkan negara.

Pada kasus
karhutla tahun 2015, kerugian rakyat dan negara mencapai Rp200 triliun
dalam waktu tiga bulan, belum dihitung kerugian kesehatan dan kematian.
Negara bahkan harus membentuk suatu badan khusus untuk memulihkan dan
merestorasi lahan gambut yang rusak karena Karhutla tahun 2013, 2014,
2015.

Selain itu, berkembangnya perkebunan sawit juga dapat
meningkatkan laju kerusakan hutan. Salah satu alasan mengapa pertumbuhan
sawit dapat merusak hutan adalah karena ketidakmampuan pemerintah pusat
menjangkau berbagai tata kelola lahan di tingkat lokal. Kelemahan ini
dimanfaatkan oleh perusahaan sawit untuk mengeksploitasi lahan  tanpa
meminta izin, sehingga perkebunan mulai merambah ke daerah-daerah
sensitif seperti zona penyangga di sekitar hutan lindung  yang merupakan
rumah bagi spesies yang terancam punah, seperti orangutan.

Mereka
menggunaan teknik tebas dan bakar (slash-and-burn) untuk membersihkan
lahan yang akan dikembangkan menjadi perkebunan sawit. Meskipun ilegal,
teknik tebas bakar memungkinkan perusahaan untuk membersihkan lahan jauh
lebih murah dan cepat daripada teknik lainnya. Akibatnya, kebakaran
terjadi di luar kendali untuk waktu berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun, terutama di kawasan lahan gambut yang sangat mudah
terbakar. Fenomena kebakaran ini menimbulkan bencana kabut asap yang
dapat mengakibatkan  beragam penyakit pernapasan seperti ISPA, asma,
PPOK, jantung dan iritasi yang mengancam ratusan ribu warga.

Mengutip
dari pernyataan Jokowi “ Jangan semua mau menanam sawit. Tanaman lain
bisa ditanami seperti kopi. Lahan tanam sawit di Indonesia sudah gede
banget kurang lebih 13 juta hektar dan produksinya per tahun 42 juta
ton. Kalau terlalu gede lagi, harganya nanti turun". Dari pernyataan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembukaan lahan untuk perkebunan
kelapa sawit harus dikurangi.

Selain sudah banyak, juga
menghindari kerugian-kerugian yang diakibatkan perkebunan kelapa sawit
seperti rusaknya lingkungan sekitar. Pembukaan lahan bisa diperuntukkan
untuk komoditas-komoditas lain seperti kopi, kakao, karet, dan lain-lain
yang juga berpotensi meningkatkan pendapatan Indonesia. (*)

*)Mahasiswi Politeknik Statistika STIS, Jakarta.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2018