Home
 
Begini Nasib Karyawan PT Langgam Inti Hibrida Saat Dilanda Banjir

Sabtu, 09/12/2017 - 17:17:03 WIB

PEKANBARU - Belum lama dengan kasus kebakaran lahan hingga 770 hektar yang membuat izin PT Langgam Inti Hibrida (LIH) di Kabupaten Pelalawan dibekukan sementara oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Perusahaan perkebunan sawit itu sepertinya tidak jera akan hukuman selama 6 bulan tersebut.


Kali ini menjadi sorotan adalah nasib karyawan yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun, tidak mendapatkan perlakuan layak perusahaan. Mereka hanya diberikan tempat tinggal seadanya saat terkena musibah banjir. Ada sekitar 60 kepala keluarga tinggal di tenda berukuran hanya 2x3 meter berisi 6-10 orang.

Kondisi itu diceritakan anggota DPRD Riau H. Sugianto usai mengunjungi barak-barak di kawasan perkebunan PT LIH. Perusahaan dinilai lalai dalam memperhatikan kesejahteraan karyawan.

"Mereka sekitar 60 KK yang setiap keluarga berjumlah 6 sampai 10 orang tidak layak diberi hunian 2x3 meter saat banjir musiman.

Padahal hal ini sebenarnya sangat bisa diatasi apabila perusahaan mau memindahkan barak-barak yang setiap tahun terjadi banjir," kata Sugianto, Sabtu (9/12).

Tetapi, lanjut Bendahara Umumu DPW PKB Riau, karena perusahaan tidak mau memperhatikan karyawan dan cuma memeras tenaga para karyawan semata.

"Saya rasa juga masih banyak kesalahan-kesalahan perusahaan yang perlu disikapi oleh pihak terkait. Banjir yang terjadi setiap tahun itu karena perusahaan dalam usaha menutup anak sungai," jelas Ketua Umum Garda Bangsa Provinsi Riau itu.

Seperti anak sungai Bunyian, sawit-sawit yang ditanam oleh PT LIH berada persis dibibir sungai. Akibat aktivitas yang dilakukan perusahaan membuat tanggul dan menutup sungai, masyarakat sekitar juga mengalami kerugian panen karena kebun mereka tergenang banjir.

"Ada ratusan hektar yang tidak bisa di panen dan akibat banjir tadi petani mengalami kerugian ratusan juta hingga miliaran rupiah," tutupnya.

Selain itu, perusahaan juga diduga melakukan penanaman di luar Hak Guna Usaha (HGU) yang melanggar Undang-undang Nomor 41 tentang 1999 tentang Kehutanan. (rul)

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017
replica handbags replica watches uk