Home
 
Berlindung kepada Allah dari Kejahatan Malam

Selasa, 28/11/2017 - 08:39:16 WIB

KALI ini kita akan membahas tafsir surat Al-Falaq. Surat makkiyah, tetapi ada pula yang mengatakan madaniyyah, terdiri atas lima ayat, dan salah satu dari dua surat perlindungan tentang meminta perlindungan Allah Taala.

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam ketika telah gelap gulita, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul, dan dari kejahatan pendengki ketika ia dengki'."

Riwayatnya tentang orang yahudi yang menyihir Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga beliau sakit selama tiga hari. Sakit beliau sangat parah sampai tidak sadar akan perbuatanya. Jibril pun datang dan memberitahunya tentang bagian yang terkena sihir. Setelah itu, dibacakan Jibril surat An-Nas dan Al-Falaq kepada beliau hingga akhirnya sadar seperti semula.

Namun, riwayat ini tidak benar seperti pendapat para ulama kecuali celotehan orang yahudi dengan tujuan agar manusia ragu terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menganggap beliau benar-benar terkena sihir. Padahal, Allah Taala berfirman, "Allah memelihara kamu dari gangguan manusia." (QS. Al-Maidah: 67)

"Sesungguhnya kami memeliharamu dari (kejahatan) manusia yang memperolok-olokan (kamu)." (QS Al-Hijr: 95)

Katakan kepada mereka, (ya, Muhammad), Aku berlindung kepada Tuhan seluruh alam yang dapat membelah tanah dan langit. Aku berlabuh kepada-Nya dari semua kejahatan malam jika telah gelap gulita dan menutupi seluruh alam karena kegelapan malam menjadi tabir bagi setiap orang yang melampaui batas dan pendosa.

Aku berlindung kepada-Mu dari wanita peniup buhul tali yang mereka ikat (seperti dijelaskan tadi, tetapi maksud sebenarnya adalah berlindung kepada-Mu dari kejahatan pengadu domba yang memutuskan hubungan cinta kasih. Dengan demikian ta' bermakna hiperbol dan bukan menunjukkan ta'nits (feminim). Jadi, maknanya orang yang berusaha mengadu domba dengan mengarahkan segenap upaya untuk menyakiti orang lain.

Tidak ada jalan untuk mendapatkan rida dari orang semacam itu. Tidak ada cara lain menghadapi orang itu kecuali dengan menghadap kepada Allah Taala agar berkenan memelihara kita dari kejahatannya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. [Ustadzah Ida Faridah]

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017
replica handbags replica watches uk