Home
 
Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang (20)
Pernah Bentrok dengan GMNI, Lukman Edy Masuk PMII Lewat Rekrutmen Luar Kampus

Senin, 20/11/2017 - 14:21:17 WIB

Buku biografi ini merupakan secuil dari sebagian kecil kisah dari kehidupan seseorang yang kini menjadi inspirasi banyak orang, khususnya bagi masyarakat Riau serta bagi warga Indonesia pada umumnya. Mengapa dikatakan secuil, karena ini hanya bagian kecil bukan secara keseluruhan. Karena jika dilihat dari pengalaman dan apa yang dilalui oleh seorang manusia tentunya tak dapat ditulis hanya dalam satu buku saja. (Penulis, Lina M Komarudin dan Ade Wiharso)

SEBAGAI mahasiswa baru di Malang dan berasal dari tanah seberang, tentunya menjadi hal utama adalah mencari teman. Di Malang yang merupakan wilayah Jawa Timur seperti kita ketahui merupakan gembong dari Nahdlatul Ulama (NU) dan di sanalah Lukman Edy mulai bergaul dengan teman-temannya para aktivis NU.

Berawal dari pengajian-pengajian yang sering diikutinya, baik itu sesama teman di jurusan dan fakultas, ia pun akhirnya ikut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tetapi di Fakultas Teknik itu dilarang karena PMII dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pernah bentrok dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di kampus. Lukman Edy pun ikut PMII dengan masuk melalui rekrutmen di luar kampus.

"Saya dan teman-teman mahasiswa IAIN ikut rekrutmen dan bergabung di PMII IAIN. Di sana saya dididik dan dikader. Sebagai kader PMII kita didelegasikan untuk aktif di intra kampusnya di senat dan di himpunan jurusan," ungkapnya.

Lukman Edy selama aktif di PMII tidak pernah memegang jabatan dalam struktur kepengurusannya, ia lebih banyak aktif di kampus sebagai pengurus senat yang sebenarnya merupakan delegasi dari PMII.

Walaupun demikian, pengajian dan kajian-kajian PMII tetap berlangsung untuk menambah wawasan dan memenuhi kehausan intelektualnya.


PMII lahir pada 17 April 1960, dipicu oleh kuatnya keinginan mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusunnah wal jama'ah. Saat itu ada beberapa faktor yang mencetuskan lahirnya PMII.

Diantaranya adalah carut marutnya keadaan politik bangsa Indonesia sekitar tahun 1950-1959, tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan, berpisahnya NU dan Masyumi, dan saat itu PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno, dan Bung Karno meminta NU mendirikan organisasi mahasiswa Islam, maka lahirlah PMII.

Tujuan dari PMII sebagaimana tertuang dalam AD/ART adalah; Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah Swt, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaaan Indonesia.


Dengan dasar pemikiran dan tujuan itulah, Lukman Edy tak segan-segan memutuskan untuk bergabung di PMII. Ia melihat kesamaan dalam misi maupun visi yang tertanam dalam dirinya.

Bagi Lukman Edy, PMII bukan hanya organisasi yang dibentuk karena sama-sama menganut NU, namun ia merasa bahwa lorong perjuangannya ada di PMII.

Di PMII tak hanya kehausan akan keilmuan maupun intelektualnya yang terpenuhi, tetapi bagaimana potensi yang sudah ada dalam dirinya pun mampu dikembangkan dan dioptimalkan untuk kemaslahatan orang sekitarnya, terlebih lagi bagi umat, bangsa dan negaranya.

Di sini, Lukman Edy merasa ia berdakwah dan berjuang di jalan yang tepat. [*]

"Sebuah Biografi Lukman Edy, Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang". Pengantar Jusuf Kalla, Penulis Lina M Komarudin dan Ade Wiharso.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017
replica handbags replica watches uk