Home
 
Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang (12)
Ketika Adnan Bertanya Pada Nuraini, "Lebih Memilih Mana, Mau Kaya Atau Kita Sekolahkan Anak?"

Rabu, 11/10/2017 - 15:20:04 WIB

Lukman Edy adalah sosok yang mandiri dan tangguh dalam mencapai apa yang diinginkannnya. Buktinya, ia tak tanggung-tanggung untuk memilih partai yang berbeda yang selama ini diikuti oleh keluarganya, yaitu Golkar. Lukman Edy adalah salah satu tokoh yang menjadi perintis dan pengusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tanah Sumatera pasca reformasi terjadi. (Penulis, Lina M Komarudin dan Ade Wiharso)

NURAINI duduk di hadapan suaminya Adnan. Ia menunggu Adnan mengatakan sesuatu. Ia tahu, Adnan merupakan sosok suami yang luar biasa dan dapat memberikan apa pun yang diinginkannya, apalagi ia merupakan pejabat publik di kancah kecamatan.

"Lebih memilih mana, mau kaya atau kita sekolahkan anak-anak kita sampai tinggi," tanya Adnan memandang wajah istrinya yang ayu.

Nuraini tak langsung menjawabnya, ia berpikir sejenak.

"Jika kau pilih kaya, aku kan belikan banyak tanah dan kita bakal punya banyak kebun kelapa seperti orang-orang sini, kita akan bekerja siang malam menggarap kebun. Tapi jika memilih pendidikan anak, maka kita harus bersiap untuk hidup sulit, seadanya. Karena biaya pendidikan tidaklah murah,"  papar Adnan memberikan gambaran pada istrinya.

Nuraini mengangguk, ia semakin mantap dengan keputusannya. Ia pun mengatakan bahwa ia ingin anak-anaknya memiliki ilmu yang tinggi dan berakhlak luhur. Itu semua hanya didapatkan jika anak-anaknya sekolah dan berpendidikan tinggi. Kalau memilih harta dan harus menggarap kebun kelapa, Nuraini mengaku tak sanggup karena ia tak pandai berkebun.

Adnan tersenyum mendengar jawaban istrinya yang ternyata sepemikiran dengannya. Walaupun itu sudah menjadi rencananya, Adnan tetap mendiskusikan dan menanyakan terlebih dahulu pada sang istri. Tak disangka, jawaban sang istri begitu membuat hatinya tenang dan lebih bersemangat untuk mendidik anak-anaknya.

"Harta bisa habis, tapi derajat dan kedudukan yang tinggi karena berilmu dan taat pada Allah, itu tak akan ada habisnya," seloroh Nuraini.


Walaupun mengaku tak memiliki pendidikan yang tinggi, Nuraini menyadari satu hal yaitu betapa pentingnya pendidikan untuk anak-anaknya. Ia melihat anak-anaknya sebagai amanah dari Allah Swt, yang akan dipertanggungjawabkannya di dunia maupun di akhirat. Tak ada jalan lain, ia harus mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.

"Saya cuma takut anak-anak saya tak seperti diharapkan. Saya ingin anak-anak saya menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama," ungkap Nuraini. 

Oleh karenanya, keputusan Nuraini lebih mengutamakan pendidikan dibandingkan kekayaan, sebagaimana ditawarkan Adnan. Dengan pendidikan Nuraini yakin, anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang terhormat, karena kemampuan intelektualnya, kemampuan berinteraksi dengan orang lain dengan baik sesuai dengan norma yang berlaku, dan mampu menempatkan diri di mana pun berada. [*]

"Sebuah Biografi Lukman Edy, Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang". Pengantar Jusuf Kalla, Penulis Lina M Komarudin dan Ade Wiharso.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017
replica handbags replica watches uk