MENINGGALNYA saksi kunci kasus e-KTP Johannes Marliem, menyisakan tanda tanya. Pria yang dikabarkan bunuh diri itu, pada jasadnya ditemukan beberapa luka di tubuhnya.">
Home
 
 
 
Misteri Meninggalnya Saksi Kunci Kasus e-KTP

Minggu, 13/08/2017 - 12:16:38 WIB

JAKARTA - Meninggalnya saksi kunci kasus e-KTP Johannes Marliem, menyisakan banyak tanda tanya. Pria yang dikabarkan bunuh diri itu, pada jasadnya ditemukan beberapa luka di tubuhnya. Sejumlah pihak menilai hal itu tak lazim dalam peristiwa bunuh diri.

Seperti dilansir Kontan, sebelum kematiannya, Marliem sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan terkait rekaman pembicaraan terkait pembahasan proyek e-KTP yang dia miliki justru membuat nyawanya terancam. Padahal, rekaman tersebut sebenarnya tak ingin dia beberkan.

"Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam," katanya.

"Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media. Apa saya enggak jadi bual-bualan pihak yang merasa dirugikan? Makanya saya itu kecewa betul," sergah Marliem seperti dikutip Kontan.

Marliem juga sempat mengatakan jika hukum di Amerika Serikat juga berlaku sama dalam hal privacy rights.

"Saya kira sama saja hukum di AS juga begitu. Kita selalu menjunjung tinggi privacy rights, harus memberitahu dan consent bila melakukan perekaman," tutur dia.

Karena itu, Marliem menyampaikan harapannya kembali agar jurnalis Kontan, yang saling bertukar pesan dengan dirinya, tidak memelintir pemberitaan soal rekaman yang dia sebut sebagai catatan tersebut.

Pasalnya, dalam pemberitaan di media massa yang Marliem maksud sebelumnya, memberi kesan bahwa Ketua DPR RI Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP, salah satunya, gara-gara rekaman yang dia miliki.

"Jadi tolong jangan dipelintir lagi. Saya tidak ada kepentingan soal rekaman. Dan ada rekaman SN (Setya Novanto) atau tidak, saya juga tidak tahu. Namanya juga catatan saya," ucap Marliem.

Lebih jauh Kontan menyebutkan, Marliem juga sempat membantah soal isi surat dakwaan yang menyebut ia sempat menyerahkan uang US$ 200.000 kepada Sugiharto, mantan pejabat Kemendagri yang sudah divonis bersalah di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Bahkan sebagai bukti, Marliem memberikan potongan rekaman pembicaraannya dengan Sugiharto. Dalam pembicaraan itu, dia hanya ingin memberikan teknologi yang terbaik serta bekerja demi kesuksesan program e-KTP. Dan harga yang dia berikan kepada konsorsium pun merupakan harga wajar dan tidak digelembungkan.

Selain itu, meski perusahaannya berbasis di Amerika Serikat, Marliem menggaransi data kependudukan tidak akan bocor.

Pasalnya server dan storage system berada di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Lantaran perusahaannya berasal dari negeri Paman Sam itu pula yang menjadi alasan dia tidak bisa main suap-menyuap.

"Saya sudah pahit-pahit ngomong di depan, bahwa kami ini perusahaan Amerika. Tidak bisa cawe-cawe. Kami tidak bisa mengeluarkan uang dari perusahaan untuk kepentingan tidak jelas," tukasnya.

Pasalnya, kata Marliem, jika melanggar, perusahaannya bakal dijerat dengan FCPA (Foreign Corrup Practice Act) dan harus membayar denda besar jika terbukti menyuap. Penerapan aturan ini juga mulai digunakan KPK dalam menangani kasus korupsi pidana korporasi.

Dalam kesempatan bertukar pesan dengan jurnalis Kontan itu, Marliem sempat berkomentar soal kartu-kartu yang dikeluarkan pemerintah, seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, BPJS dan lain-lain.

Bagi dia, kartu-kartu tersebut hanyalah pemborosan anggaran karena hanya plastik yang berisi tulisan. Sementara, e-KTP berisi data biometrik yang sangat valid. Bahkan dengan e-KTP, Marliem mengklaim, pemerintah bisa memastikan jumlah anggota keluarga, dan berapa jumlah anak yang harus disubsidi.

"KTP-el saat ini sudah siap, mau dijadikan e-Toll bisa, jadi e-money juga bisa. Tapi, karena di sektor-sektor itu sudah dikuasai mafia jadi pemerintah tidak berani ambil keputusan politis," tutur Marliem saat itu. (swc)

Home | Politik | Hukrim | Ekbis | Seksologi | Olahraga | Kesehatan | Selebritis | Sosial | Lingkungan | Serba-Serbi |
Handphone | Film | Kuliner | Otomotif | Liputan Malam | Kawula Muda | Index
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017