BNNl diminta hentikan penyidikan kasus Fidelis Ari, warga asal Sanggau, Kalimantan Barat yang ditangkap lantaran menanam ganja di rumahnya untuk mengobati penyakit istrinya.">
Home
 
 
 
LBH Minta BNN Hentikan Penyidikan Kasus Suami Tanam Ganja Untuk Obat Istri

Senin, 03/04/2017 - 07:54:59 WIB

JAKARTA - Badan Narkotika Nasional diminta menghentikan penyidikan kasus Fidelis Ari, warga asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yang ditangkap lantaran menanam ganja di rumahnya untuk mengobati penyakit istrinya, Yeni Riawati.

Desakan tersebut disampaikan analis kebijakan Narkotika Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Yohan Misero saat ditemui di kantor LBH Masyarakat, Jakarta, Minggu (2/4). 

"Kami minta dengan kerendahan hati BNN untuk menghentikan penyidikan. Ini atas dasar kemanusiaan. Apa yang dilakukan oleh Fidelis ini kan jelas untuk kesehatan istrinya, jadi tidak bisa disalahkan begitu saja," kata Yohan.

Selain itu, Yohan juga meminta kepada pemerintah untuk membuka kesempatan bagi para peneliti melakukan penelitian terhadap zat dan tanaman golongan I narkotika untuk menempatkan ganja sebagai prioritas. 

"Jadi bisa diteliti lagi manfaat ganja lebih dalam. Apakah benar bisa menyembuhkan penyakit, penyakitnya apa saja. Pokoknya yang berkaitan dengan kesehatan," katanya. 

Menurut Yohan apa yang dialami Fidelis bukan sepenuhnya kesalahannya. Ia merujuk pada setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan kesehatan dari pemerintah. 

Salah satu aspek pemenuhan hak atas kesehatan adalah availibility atau ketersediaan serta accesibility atau keterjangkauan. Oleh karena itu, momentum ini dapat pemerintah jadikan kesempatan untuk mulai merumuskan ulang kebijakannya.

"Agar ke depan bagi seluruh rakyat Indonesia terjamin ketersediaan dan keterjangkauan akan hak atas kesehatan. Kita yakin Indonesia bisa mampu lebih baik," tandasnya. [rmo]

Home | Politik | Hukrim | Ekbis | Seksologi | Olahraga | Kesehatan | Selebritis | Sosial | Lingkungan | Serba-Serbi |
Handphone | Film | Kuliner | Otomotif | Liputan Malam | Kawula Muda | Index
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017