KISAH ini dianggap sangat penting untuk "mengakalkan" pikiran siswa Sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa.">
Home
 
 
 
Tiga Nasihat Burung kepada Si Tolol

Minggu, 02/04/2017 - 09:18:43 WIB

PADA suatu hari ada seseorang yang menangkap burung. Lalu hewan itu berkata kepada si penangkapya, "Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasihat."

Si Burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon. Dan yang ketiga, nasihat akan diberitakannya saat ia sudah mencapai puncak bukit.

Orang itu setuju, dan meminta nasihat pertama. Kata burung itu, "Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya seperti hidupmu sendiri, janganlah menyesal."

Orang itu pun melepaskannya, dan burung itu segera melompat ke dahan. Hewan itu kemudian memberikan nasihatnya yang kedua, "Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti."

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, "O manusia malang! Diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya!"

Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, "Setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!"

Si Burung menjawab, "Alangkah tololnya kau, meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup besar untuk bisa menyimpan dua permata besar!

Kau tolol. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia."

Catatan:

Dalam lingkungan Darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk "mengakalkan" pikiran siswa Sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa.

Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan Sufi, kisah ini kedapatan juga dalam klasik Rumi, Matsnawi. Kisah ini ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Attar, salah seorang guru Rumi. Kedua pujangga itu hidup pada abad ke tiga belas. [ilc]

Home | Politik | Hukrim | Ekbis | Seksologi | Olahraga | Kesehatan | Selebritis | Sosial | Lingkungan | Serba-Serbi |
Handphone | Film | Kuliner | Otomotif | Liputan Malam | Kawula Muda | Index
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017